Awalnya kami berkenalan tanpa sengaja. Kami bertemu saat ngopi bersama dalam acara perkenalan organisasi di kampus. Saat itu, kami bahkan tidak saling menyimpan nomor kontak. Beberapa waktu kemudian, kami mulai saling berkabar melalui obrolan yang hanya membahas seputar organisasi.
Seiring berjalannya waktu, kami semakin sering menghabiskan waktu bersama, ngopi bersama teman-teman lain. Ajakan untuk ngopi berdua pun awalnya sering kutolak karena rasa sungkan. Namun perlahan, kami mulai terbiasa pergi bersama ke mana pun.
Hingga suatu hari, Syahrur mengungkapkan perasaannya. Aku tidak langsung menerimanya, tetapi setelah melalui banyak pertimbangan, akhirnya aku membuka hati. Hubungan yang kami jalani pun berlangsung cukup lama hingga kami sepakat melangkah ke jenjang yang lebih serius.
Awalnya, kami hanya menjalani hubungan ini dengan sederhana, sampai akhirnya kedua orang tua saling mengenal dan memberikan restu. Kami pun bertunangan, mempertemukan keluarga besar, dan dari situlah muncul satu pertanyaan sederhana yang menguatkan keputusan kami:
“Kenapa tidak menikah saja, agar bisa selalu bersama?”