September 2019 — Pertemuan di Balik Layar
Semua bermula dari hal sederhana: sebuah notifikasi yang mungkin terlihat sepele.
Sebuah pesan singkat di Instagram, sapaan ringan dengan menyebut nama, tanpa rencana, tanpa ekspektasi.
Obrolan receh di tengah malam itu, tanpa kami sadari, menjadi benang merah yang perlahan merajut takdir kami.
Dari panggilan sederhana “misna” di DM, tumbuh rasa yang tak bisa lagi dianggap biasa.
Waktu berjalan, hingga akhirnya pada 04 Juni 2021, kami memilih untuk saling menetap dalam satu hati.
Tak pernah terbayang, dari percakapan kecil itu, Allah sedang menuliskan perjalanan panjang menuju sebuah kata: halal.
2021–2024 — Diuji Jarak dan Waktu
Kami belajar bahwa cinta tidak selalu tentang kedekatan, tapi tentang bertahan dalam jarak.
LDR bukan sekadar beda kota—ia adalah tentang menahan rindu yang tak bisa langsung dipeluk,
tentang waktu yang tak selalu berpihak, dan tentang kesabaran yang diuji tanpa henti.
Ada hari-hari penuh tawa, tapi tak sedikit pula hari yang diisi air mata.
Pernah kami terdiam dalam ego, saling menjauh dalam diam yang menyakitkan.
Pernah pula lelah menghampiri, hingga terlintas pertanyaan, “Apakah kita memang ditakdirkan bersama?”
Namun setiap kali hampir menyerah, kami kembali pada doa yang sama:
“Ya Allah, jika dia baik untukku, dekatkanlah. Jika bukan, ikhlaskanlah.”
Dan dari doa itu, kami belajar satu hal—
cinta sejati bukan hanya tentang rasa,
tetapi tentang kesabaran yang tak pernah habis,
tentang bertahan meski keadaan tak selalu mudah.
Awal 2025 — Janji yang Diikrarkan
Dengan mengucap bismillah dan restu orang tua, langkah itu akhirnya nyata.
Ia datang, bukan lagi sekadar kata-kata manis di layar,
melainkan membawa keluarga, membawa kesungguhan, membawa niat yang utuh.
Hari itu, lamaran kami bukan sekadar pertukaran cincin.
Ia adalah pertukaran janji,
janji untuk saling menjaga dalam keadaan apa pun,
janji untuk saling menguatkan ketika dunia terasa berat,
hingga kelak Allah sendiri yang memisahkan.
1 Juni 2026 — Akhir dari Penantian
Hari ini, semua doa yang pernah kami bisikkan di sepertiga malam akhirnya terjawab.
Semua air mata, semua penantian panjang, semua pertanyaan “kapan ya?”
bermuara pada satu jawaban yang indah.
Dari sekadar “online” di dunia maya,
kini kami menjadi “sah” di hadapan penghulu dan para saksi.
Perjalanan yang penuh luka, rindu, dan harap,
Allah ubah menjadi ibadah paling indah dalam hidup kami.
Kami sadar, pernikahan ini bukanlah akhir dari perjalanan.
Justru ini adalah awal dari doa-doa baru yang akan kami perjuangkan bersama.
Mohon doa restu dari Bapak/Ibu/Saudara/i,
semoga Allah menjadikan rumah tangga kami sakinah, mawaddah, warahmah,
dan menuntun langkah kami hingga ke Jannah-Nya.
Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.